“Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya.
Zaman kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia, tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia.
Beberapa waktu terakhir ini ada sebuah wacana yang muncul mengepung ruang kesadaran pribadi dari berbagai arah. Bermula dari petualangan maya dari satu blog ke blog lain, dari satu website ke website yang lain, sampai berlanjut puncaknya tatkala hadir sebuah naskah pidato kebudayaan yang kesemuanya itu bicara tentang perempuan. Tentang diskriminasi, tentang ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan, manusia perempuan.
Ini bukan sesuatu yang baru memang, namun entah mengapa tiba-tiba sekarang semuanya serentak menyeruak masuk mengusik akal budi nurani membuat diri tak kuasa untuk tidak menuangkannya dalam tulisan.
Jelas, tulisan ini sekedar buah pikir hasil dari sebuah proses perjalanan panjang kehidupan yang sangat personal dan subyektif. Bukan sebuah naskah pidato yang akan dibacakan dihadapan khalayak luas. Tidak juga sebagai upaya untuk menggali kapak peperangan atas perbedaan pemahaman terhadap issue yang sangat sensitif, terutama bila ini ditulis oleh seorang laki-laki.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memperkuat referensi yang sudah ada, sebaliknya juga bukan untuk mendapatkan pembenaran dari berbagai referensi yang sudah ada. Tidak untuk mendukung, juga tidak menentang gagasan yang sudah ada. Sekali lagi ini cuma sepenggal pemikiran yang mengalir dari sebuah proses dialektika perjalanan hidup. Suatu hasil rangkuman dari dialog imajiner antar diri sendiri dengan diri pribadi.
Hakikat Kemanusiaan
Aneh mungkin mendengar kata ‘manusia perempuan’. Tentu pilihan kata ini bukan tanpa maksud. Seperti halnya juga penyebutan ‘manusia laki-laki’, penggunaan kata ‘manusia’ menjadi sangat mendasar untuk memberikan aksentuasi atas adanya kesamaan antara perempuan dan laki-laki. Keduanya sama-sama manusia.
Rasanya pilihan pendekatan dari sisi ‘manusia’ untuk membuka pintu masuk pembahasan tentang gender terasa jauh lebih manusiawi dan bermartabat untuk menemukan apa yang seharusnya -das sollen- atas eksistensi keberadaan manusia.
Sebagai mahluk berTuhan, lepas apapun agama yang dianut, semua pihak tentu setuju bahwa manusia diciptakan melalui proses penciptaan oleh sebuah Maha Kehendak. Terlepas apakah itu dari sebuah proses evolutif yang secara primitif berasal dari satu sel tunggal yang kemudian berkembang selama jutaan tahun hingga membentuk homo sapiens, ataupun dari dua manusia awal yang dalam agama samawi disebut sebagai Adam dan Hawa.
Sang Maha Kehendak, yang dikenal dengan nama Allah, Hyang Widhi, Yahwe, atau apapun namanya, memang berkehendak atas adanya alam semesta beserta isinya termasuk manusia yang hidup di dalamnya. Dia adalah awal juga sekaligus akhir.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Apa sesungguhnya kehendak Sang Maha Kehendak dengan menciptakan manusia terdiri dari dua jenis, perempuan dan laki-laki?” “Bukankah lebih mudah jika proses evolusi atau penciptaan manusia sejak awal diarahkan untuk hanya satu jenis saja, perempuan saja atau laki-laki saja?” Tentu tidak akan ada pertentangan gender seperti sekarang ini. Toch hubungan sesama jenis pun saat ini juga sudah memasyarakat. Bahkan di sejumlah Negara maju, pernikahan antar sejenis sudah dilegalkan.
Pertanyaan ini penting untuk mendapatkan jawaban orisinal dan hakiki yang bukan semata-mata versi dongeng turun temurun milik parokial dan para ulama serta brahmana yang harus diimani secara dogmatis mengingat kelembagaan agama pun tak kuasa menghindari terjadinya bias atas tafsir literasi pewahyuan di wilayah silang pendapat pro kontra yang terjadi. Tak heran, ini sebuah keniscayaan yang terjadi karena kelembagaan agama juga tak bisa terhindar dari subyektifitas gender yang cenderung patriarki.
Masalahnya kemudian, bagaimana dan dimana jawabannya harus ditemukan?! Mengingat ini bukan lagi kebenaran sepihak yang dimonopoli oleh otoritas keagamaan yang dibangun diatas dogma-dogma usang tanpa ada keinginan sedikitpun untuk melakukan revitalisasi terhadap nilai-nilai spiritual religius.
Tatkala wilayah keagamaan terlarut dalam silang sengketa tentang gender, maka satu-satunya wilayah netral yang memiliki otoritas untuk memberikan jawaban secara tepat dan obyektif -tanpa siasat muslihat- yang masih tersisa ialah wilayah keIllahian yang tidak pernah melakukan keberpihakan pro dan kontra terhadap salah satu gender.
Illah, Gusti Sang Maha Kehendak adalah perwujudan kesempurnaan gender. Dia bukan laki-laki juga bukan perempuan, apalagi transgender. Dia adalah unifikasi yang sempurna dari energi feminin dan maskulin.
Manusia sebagai perwujudan kuasaNya yang paling sempurna tentunya mewarisi kesempurnaannya. Hanya sayangnya, kesempurnaan manusia tidak taken for granted begitu saja langsung diwariskan. Namun diperoleh melalui upaya pencarian jati diri menuju kesempurnaan.
Masalah gender, merupakan satu dari banyak aspek kehidupan yang memberi stimulus kepada manusia untuk berupaya mencari jalan pencarian jati diri kemanusiaan untuk menuju pada fitrah kesempurnaannya. Oleh sebab itu, jawaban atas masalah gender hanya bisa ditemukan di wilayah kedalaman relung diri yang imanen dan transendental melalui hubungan langsung antara manusia yang diciptakan dengan Sang Maha Kehendak yang menciptakan. Tidak ada satu otoritas apapun di dunia ini yang boleh bertindak sebagai juru bicara untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut kecuali Sang Maha Pencipta itu sendiri. Dalam logika yang paling sederhana, tentu yang paling mengerti eksistensi kesejatian suatu benda adalah yang menciptakan benda tersebut.
Pada konteks itu, rujukan untuk mendapatkan jawaban tersebut bukan lagi terletak pada kitab-kitab dan literatur keagamaan ataupun ilmiah yang dipenuhi oleh keterbatasan pemahaman akal pikir manusia yang penuh dengan muslihat dan arogansi intelektual. Namun lebih pada proses pencarian ke dalam diri, pencarian jati diri kemanusiaan di wilayah ke Ilahian dengan penuh kejujuran terhadap diri sendiri.
Hanya dengan jawaban tersebut segala sesuatu yang terkait dengan masalah eksistensi keberadaan perempuan dan laki-laki berikut dengan pola interaksi keduanya akan dapat memperjelas posisi, peran, hak, kewajiban, tanggung jawab dan fungsi kemanusiaan masing-masing dalam kesadaran yang penuh diliputi cinta kasih antar sesama manusia.
Kekinian
Menjadi wajar ditengah -das sein- realita hiruk-pikuk dan gegap gempitanya modernitas perkembangan jaman dimana nilai-nilai kemanusiaan semakin termarjinalkan oleh nafsu pemujaan kebendaan yang memuliakan materi diatas segalanya, dinamika hubungan perempuan dan laki-laki mencapai titik nadirnya.
Manusia, perempuan dan laki-laki, kehilangan pengamatan atas dirinya sendiri. Keduanya saling memperebutkan wilayah eksistensi untuk saling menonjolkan kemuliaan dirinya. Manusia mencoba menjelajah wilayah-wilayah diluar dirinya sebagai upaya untuk mengisi kekosongan jiwanya. Manusia terperangkap dalam labirin kehidupan yang membuat mereka makin tersesat jauh dari nilai kesejatiannya sebagai manusia paripurna. Manusia terjebak dalam rutinitas kehidupan yang dingin, mekanis dan reptitif sehingga membuat mereka tidak hanya terasing satu dengan yang lain, namun juga terasing dengan dirinya.
Berbagai dinamika yang berkembang saat ini dengan berbagai varian permasalahan yang terjadi adalah sebuah resultante dari sebuah keniscayaan kodrati yang bekerja secara dialektis pada aras hukum kausalitas menuju pemurnian kembali kualitas nilai kemanusiaan demi meluruskan arah gerak sejarah peradaban umat manusia.
Sebagai manusia, perempuan dan laki-laki, saat ini pada akhirnya kita hanya dihadapkan pada dua pilihan; “menyelesaikan proses pencarian jati diri kemanusiaan sebagai upaya mengkalibrasi energi kemanusiaan kita selaras dengan energi keIlahian untuk ikut serta dalam proses pemurnian kembali arah gerak sejarah peradaban umat manusia?, atau memelihara subur pertikaian dan anarkhisme gender untuk terus saling menegasikan eksistensi satu dengan eksistensi yang lain hingga akhirnya musnah tergilas oleh perubahan kosmik yang terjadi?”
Semua terpulang kepada anda.
Tatwam Ashi
Bhinneka Tunggal Ika
Tan Hana Dharma Mangrwa
Bandung, 19 Nopember 2008
Popularity: 6% [?]


Like
WordPress 2.8.5











Pengamanan pertamak dulu deh
Kedua juga deh
Ketiga baru komen. Gender bukan masalah mas, itu kan memang anugrah Tuhan. Yang jadi masalah adalah karena manusia tidak pakai aturan Tuhan, hal2 sepele saja di ributkan, gimana mau maju.
Ya, kita jangan ikut2an mempermasalahkan gender, ini cuma kerjaan LSM sama orang yang ga punya kerjaan doank
Selamat malam kurnia, tidak etis anda mengatakan cuma kerjaan LSM dan orang yang nggak punya kerjaan, justru orang yang punya pekerjaan dan figur publik sangat memperdulikan gender, karena di perempuan harus mengimbangi laki-laki dalam mencapai kemajuan dan ingat gender bukan jenis kelamin tetapi perbedaan peran antara perempuan dan laki yg dibuat oleh konstruksi masyarakat, bahkan Presiden sendiri sangat memperdulikan gender ini, bukan karena kurang kerjaan bukan ? tapi itu tugas kita semua untuk memberian pengertian yang benar tentang gender, trims
iya benar kata MaS Hadi dan Kurnia gender tak mslah Mas ..
hal2 kcil sprti tiu aja yg terlalu dibesar2kan ..
wong waras memang sedikit jumlahnya, sudah terbebani mau makan apa besok…
suryaden´s last blog ..Link Lokal Download Ubuntu 9.10 Karmic Koala
pemahaman tentang gender dan seksual sendiri masih sering rancu dan salah kaprah, mas love. gender itu sesungguhnya kan merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang bisa berubah seiring dg perkembangan masyarakatnya. tapi masih saja disamakan dg seksual yang (nyaris) tak pernah berubah.
sawali tuhusetya´s last blog ..Gerakan Apolitis Kaum Muda Negeri Kelelawar
permasalahan denger tidak akan ada bila….
yang namanya manusia mampu…
mengenali siapa dirinya….
bukankah pria / wanita sama dihadapan tuhannya…